browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Sudut Lain di Ujung Ibukota

Posted by on March 20, 2014

Senin, 17 February 2014 – Siapa sangka Senin yang paling dibenci bisa jadi semenyenangkan dan semenenangkan seperti Senin ini?

Iya, kelakuan buruh ibukota yang selesai meeting bukannya kembali ke kantor malah ke Ancol.

Dermaga Ancol sore itu

Dermaga Ancol sore itu

Meeting kerjaan di daerah yang sangat dekat dengan Ancol. Berbalut alasan yang cukup masuk akal karena ingin menghindari kemacetan sore hari di kawasan tersebut, akhirnya saya melangkahkan kaki ke pantai Ancol.

Surprisingly sore itu terasa begitu tenang dan tidak terlalu ramai. Menemukan tempat duduk manis di dermaga yang baru dibuka awal tahun 2014, namanya Columbus Café. Lokasinya tepat di dermaga ujung, lebih ke depan dibandingkan Le Bridge.

Kelakuan buruh ibukota

Kelakuan buruh ibukota

I never thought that Monday can be this fun *merasakan semilir angin laut, dengerin playlist 90an, memperhatikan kapal-kapal yang lewat, dan sesekali cek email kerjaan. Berharap juga bisa menikmati senja ala ujung ibukota.

What you [actually] can do after the meeting… #SceneIbukota

put your high heels off

put your high heels off

Senja dalam sesaat, mereka pun merapat… #SceneIbukota

Merapat...

Merapat…

Tak ada formalitas surya tenggelam. Ia berlalu begitu saja tanpa pamit. #SceneIbukota

Tidak ada senja, begitu saja...

Tidak ada senja, begitu saja…

Yang tertinggal hanya sedikit warna merah di atas sana. #SceneIbukota

Cantiknya langit ibukota sore itu

Cantiknya langit ibukota sore itu

Menanti gelap di dermaga. #SceneIbukota

Gelap pun datang

Gelap pun datang

Menepi di sisi paling tepi. Jangan paksa saya untuk lebih menepi lagi karena saya sudah terpojok.

Menepi di tepian...

Menepi di tepian…

Jujur, nggak kebayang sebelumnya bisa memberanikan diri ke tempat ini sendiri. “Ingat kesehatanmu, dik”, bisik saya dalam hati.

Tapi lagi-lagi saya harus berani menyatakan perang dan menantang semua yang ingin saya lawan. Meski bukan jaminan juga setelah berani melakukan ini lantas semuanya akan tampak mudah. Ya paling tidak, yakin bahwasannya Tuhan melihat ini semua dan berharap Dia mengasihani dan melepaskan saya dari ketidaknyamanan ini. Semoga.

 

 

 

2 Responses to Sudut Lain di Ujung Ibukota

  1. Elmiko Sarirahmadhoni

    omaiigattt …. lagi blog walking nemiu elo dsini Ellie …
    saolooh ,,,, aku pergiih ama travel blogger ke-nama-an

    tau gitu gue minta tanda tangan ……
    xoxo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *