browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Merangkum Sejarah Solo Jogja di Ullen Sentalu

Posted by on December 7, 2013

Wisata museum memang tidak semenarik wisata pantai, gunung atau wisata alam lainnya. Terlebih kita sama-sama tahu fasilitas dan kelayakan museum-museum di Indonesia masih di bawah standard.

Saya pribadi sejak dahulu termasuk orang yang cukup menikmati perjalanan eksplor museum. Bukan apa-apa, hanya karena saya merasa kurang pintar dalam hal sejarah nasional. Jadilah wisata museum menjadi ajang untuk saya menambah dan mengingat kembali cerita masa lampau.

Jogja siang ini masih berselimut awan hitam. Seperti beberapa hari belakangan, hujan mengguyur tanpa kompromi. Tapi semangat saya dan jogjapetualang nggak kalah hebatnya untuk bisa berkunjung ke salah satu museum ternama di Jogja, Ullen Sentalu. Mungkin karena kami belum pernah menginjakkan kaki di museum ini. I repeat, saya yang bukan orang Jogja dan teman saya yang tinggal di Jogja ini pun belum pernah ke Ullen Sentalu. Nggak apa-apa kok, sungguh. #pukpuk

PicsArt_1384672000348

Terletak di daerah Pakem, Kaliurang (Yogyakarta), Museum Ullen Sentalu hanya bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi, sayangnya. Dengan harga tiket yang nggak bisa dibilang murah untuk ukuran museum di Indonesia, Ullen Sentalu memang menawarkan pengalaman yang jauh lebih menarik. Harga tiketnya Rp30,000 per orang sudah lengkap dengan tour guide. Itu tadi harga wisatawan lokal. Seperti yang kita tahu, wisatawan internasional selalu mendapat perlakuan luar biasa. Dan harga tiket yang harus mereka bayar adalah Rp 50,000. Percaya deh, seringnya kan kita ogah-ogahan saat pergi ke suatu tempat dan harus ditemani guide. Tapi disini, justru kebalikannya. Seketika saya merasa tingkat pengetahuan sejarah saya tentang Solo dan Jogja naik satu level. Terima kasih untuk mbak guide.

Museum Ullen Sentalu didirikan secara independen oleh keluarga Haryono yang kini dikelola oleh Ulating Blencong Foundation. Nama Ullen Sentalu sendiri adalah singkatan dari “ULating bLENcong SEjatiNe TAtaraning LUmaku” yang artinya “Nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan”. Dari mana datangnya pemikiran ini? Kita tahu dalam setiap pertunjukan wayang kulit (blencong), akan selalu ada sebuah lampu minyak yang cahayanya akan selalu mengikuti gerak langkah sang lakon. Begitulah…

PicsArt_1386429167232

Museum ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun internasional. Dengan beberapa koleksi asli milik kerajaan Solo dan Jogja serta bangunan yang dilengkapi dengan interior/eksterior Jawa asli, setiap pengunjung akan terserap masuk ke masa Jawa kuno. Setidaknya itulah pengalaman yang saya dapat. Tour museum lengkap dengan cerita para tokoh raja, permaisuri, selir, dan keturunan-keturunanya juga konflik yang terjadi saat itu menambah rasa seakan-akan kita semua diajak berjalan mundur ke masa itu.

Cerita tentang batik dan makna mendalam dibalik corak batik yang berbeda-beda menambah pengetahuan baru kita. Begitupun dengan cerita sejarah Jawa kuno beserta segala aturannya yang sangat unik.

Ditengah tur, kita akan ditawarkan segelas kecil jamu khusus yang konon katanya ramuan ini diracik untuk obat awet muda. Heuheu… *give me some more

PicsArt_1384679213621

Coba lihat gambar dibawah ini. Tidak ada yang salah sebenarnya. Pembangunan arca miring ini  memang untuk satu alas an dan tujuan tertentu yaitu memberikan simbol bahwa kebudayaan asli daerah yang sudah semakin ditinggalkan oleh masyarakatnya. *jleb

PicsArt_1386429186178

Boleh juga dicoba restaurantnya, Beukenhof Restaurant yang tampil cantik dan menawan dengan interior beraksen jaman kolonial. Tentang cita rasanya, saya ndak bisa bilang apa-apa karena nggak sempat nyicip.

Yang munkin lebih baik dihindari adalah souvenir shopnya yang diberi nama Putri Malu. Bener deh, racun banget. Baju-baju batiknya absolutely gorgeous! Cantik menawan! Harganya sebenernya sih masih reasonable kalau dibandingkan dengan batik bermerk yang dijual di pusat perbelanjaan ibukota. Bahkan corak dan modelnya jauh lebih bagus. Hanya saja, saya nggak siap menghabiskan uang sebanyak itu untuk sebuah penampilan. Tapi one thing for sure, suatu hari nanti saya akan kembali dan membeli setidaknya 1 dress . heuheu…

PicsArt_1384680048920

Karena tak mampu beli oleh-oleh batik, oleh-oleh salak pondoh pun ndak masalah. Sama-sama asli produksi lokal kok. Sekalian bantuin dan memberi semangat hidup buat si mbah yang jualan, begitu kata jogjapetualang.

PicsArt_1384679345544

Successfully #MembunuhAkhirPekan di Jogja. Terima kasih #mbaktika atas akomodasi gratisnya di Barak Inn. Terima kasih jogjapetualang atas pengalaman menyenangkan plus lanjutan #nyusucantik nya.

– Jogjakarta, 17 November 2013 – 

6 Responses to Merangkum Sejarah Solo Jogja di Ullen Sentalu

  1. malmos

    di resto beukenhof, masih adakah mesin kopi warna hijau dengan tulisan “MOL” warna merah? ;))

    • ellie

      Aku belum sempat ke restonya waktu itu :( Apakah itu milikmu? Wah, lain waktu boleh diajak nyicip kopi yang keluar dari “mesin kopi warna hijau dengan tulisan MOL” itu yes :) *meski saya bukan peminum kopi

      • malmos

        Oh, kirain sempet mampir ke restonya…
        Hahahahaha….jelas bukan to yaa. namanya aja yang kebetulan mirip 😉

        Hyuuuuuuk kapan? tapi jauh je… enakan ngopinya di Mbah Carik saja + juwadah tempe. Dijamin mak nyuuuss :))

        • ellie

          yaaah gagal deh dapet kopi gratisan di restoran [yang tampaknya] mahal. heuheu…
          tapi lagi, lagi, aku ndak ngopi lho masnyaaa… *emang kurang keren nih
          ada susu murni di Mbah Carik? hehehe repot yes B)

  2. malmos

    hmmmm… *musti diprovokasi biar suka kopi nih 😉

    susu murni, dulu kayaknya ada & hasil dari sapi perah warga kampung setempat.
    dah lama banget gak ke sana sih… :(

    • ellie

      Please jangan provokasi saya. perut saya yang ndak bisa diajak kompromi nih. Maunya sih exist jadi coffee lover gitu. tapi apa daya? 😀
      #nyusucantik cukuplah bagi saya :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *