browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Len Jelenan Ka Madhureh

Posted by on February 12, 2014

Entah apa yang membawa kaki ini melangkah hingga ke Pulau Madura.

Selamat Datang di Madura

Selamat Datang di Madura

Kamis, 30 Januari – Cerita ini dimulai dengan drama lupa nggak bawa ktp atau ID apapun saat hendak memasuki stasiun. Menempuh jarak hingga 784km dalam waktu 15 jam bersama mas-mas yang duduk manis di hadapan dan sebuah keluarga bahagia dengan 2 anak perempuannya yang hiperaktif di dalam kereta ekonomi Gaya Baru Malam. Akrab, mungkin itulah tujuan konsep kereta ekonomi. Dengan lutut hampir bersinggungan sesama penumpang lain yang duduk berhadapan, dan dengan bangku minimalis yang diduduki oleh 3 penumpang. Ndak kebayang jika harus berbagi bangku dengan orang berbadan besar.

Ini bukan kali pertama saya naik kereta ekonomi. Dulu sekali jaman masih SD dan rajin mudik ke Cepu setiap Lebaran, kami hanya mampu membeli tiket kereta ekonomi yang harganya 40ribuan. Seperti semua pemudik, uang bukanlah penghalang untuk bisa menikmati hari raya di kampung halaman. Meski kereta ekonomi saat ini sudah lebih baik dengan AC, nomor duduk dan larangan pedagang asongan masuk ke dalam gerbong, tetap saja larangan-larangan tersebut bisa dilanggar. Orapopo, toh saya pun jadi bisa menikmati lontong pecel si mbok di dalam kereta.

15 jam yang bikin galau karena nggak bisa berbuat apapun selain ngetweet. Bertolak dari stasiun Jakarta Kota pukul 11.30 siang dan akhirnya tiba [Alhamdulillah, in one piece] di stasiun Gubeng Surabaya pukul 2.30 pagi. Mencari teman untuk menunggu dijemput @blakraxtrip jam 5 subuh. Iya, sekali lagi saya ikutan open trip dalam rangka #MeetTheStrangers.

Karena keputusan ikut serta trip ini termasuk sedikit terlambat, makanya saya cuma bisa dapet tiket ekonomi. Di saat rombongan peserta lain berjumpa di stasiun Pasar Turi, saya dan (Alhamdulillah) ada 1 peserta senasib dari Purwokerto, terpaksa harus menggembel dulu di pelataran luar stasiun Gubeng. Heran deh, ada larangan bagi penumpang kereta yang baru tiba dini hari untuk menunggu terang dan berleha-leha di dalam stasiun. Alhasil, kami melantai di sisi luar stasiun ditemani nyamuk-nyamuk nakal.

Jumat, 31 Januari – Pukul 5 kami dijemput dan menuju stasiun Pasar Turi untuk menjemput rombongan lain. Kereta yang tiba sangat terlambat memaksa kami menunggu hingga pukul 9.30 pagi untuk kemudian baru bisa melaju ke Pulau Madura yang menghabiskan waktu perjalanan 4 jam menuju Sumenep. Judulnya, makan tidur makan tidur.

Tiba di Sumenep sore hari. Hanya bisa eksplor Museum Keraton Sumenep dan sebentar mampir Pantai Lombang. Tidak ada yang menarik. Museum yang memprihatinkan karena tidak adanya perawatan.

Museum Keraton Sumenep

Museum Keraton Sumenep

Cermin Kejujuran

Cermin Kejujuran

di taman sare

di taman sare

Dan pantai yang ala kadarnya dengan air laut berwarna cokelat.

Pantai Lombang

Pantai Lombang

Yang menarik adalah menghabiskan malam di alun alun kota lengkap dengan odong-odong yang surprisingly heboh. Bisa saya katakan, odong-odong disini adalah odong-odong paling heboh! Didesain cukup rumit dengan lampu warna warni dan dilengkapi dengan layar monitor untuk menikmati dangdut oplosan.

odong odong ala Sumenep

odong odong ala Sumenep

Sabtu, 1 Februari – Pagi di Sumenep. Karena di beberapa titik masih banjir, tujuan Mercusuar dan Istana Bawah Tanah terpaksa ditiadakan. Gantinya adalah eksplor Goa Keramik. Goa keramik ini konon goa tempat persembunyian Pangeran Kudus.

Goa Keramik di lantai pertama

Goa Keramik di lantai pertama

Berhasil menelusuri goa hingga lantai 7 ke bawah yang semakin ke bawah semakin minim oksigen dan horor. Konon, teman-teman yang memang memiliki kemampuan melihat makhluk halus, banyak menyaksikan penampakan di Goa ini. Dua lantai pertama sudah direnovasi dan dilapisi keramik bahkan ditinggali oleh si Bapak penemu Goa. Sering juga dijadikan tempat para musafir tinggal dan beritikaf. Namun lorong seterusnya dibiarkan apa adanya tanpa pencahayaan sedikit pun.

Memasuki lantai 7 tanpa cahaya

Memasuki lantai 7 tanpa cahaya

Selesai dengan Goa Keramik dengan semua cerita mistisnya yang dikomentari negatif oleh hampir semua peserta trip, kami menuju kabupaten Pamekasan. Tujuan pertama adalah Vihara Avalokitesvara. Cantik dan unik karena di vihara ini mereka juga memilki tempat bersembahyang bagi umat agama lain.

Langit biru di Vihara

Langit biru di Vihara Avalokitesvara

Vihara Avalokitesvara

Vihara Avalokitesvara

Vihara Avalokitesvara

Vihara Avalokitesvara

Berniat hunting foto sunset di Pantai Jumiang, berakhir kecewa karena matahari sedang tidak ingin dipotret dan terus-terusan bersembunyi di balik awan. Yasudahlah, beri ia waktu sendiri. Mungkin dia hanya ingin sendiri.

Kampung Nelayan di Pantai Jumiang

Kampung Nelayan di Pantai Jumiang

Senja di Pantai Jumiang

Senja di Pantai Jumiang

Malam harinya kami bertolak menuju tujuan wisata terkenal khas Pamekasan, Api Tak Kunjung Padam atau juga dikenal dengan sebutan Api Abadi. As mentioned earlier, saya tidak tahu apa-apa tentang Madura dan aspek wisatanya. Berharap mendapat banyak kejutan, dan benar adanya. A lot of surprises. Berpikir Api yang disebut Tak Kunjung Padam ini adalah api cukup besar, namun nyatanya, hanyalah api-api kecil yang muncul dari dalam tanah yang dipagari dan dimanfaatkan untuk memasak air para penjual sekitar sekaligus bakar jagung para pengunjung.

Api Tak Kunjung Padam

Api Tak Kunjung Padam

Logikanya, pasti ada sesuatu didalam sana hingga menimbulkan percikan api ke permukaan. Karena saya pikir api itu pasti berbahaya meski spot ini sudah menjadi obyek wisata belasan bahkan puluhan tahun, saya memutuskan untuk tidak memasuki pagar seperti yang lainnya. Hanya berani ambil foto dari jarak tertentu seraya browsing untuk menjawab rasa penasaran tentang ilmu pasti dari kejadian alam ini. Hanya 1 dari 5 artikel yang saya dapatkan yang mengungkap kejadian alam ini berdasarkan science dan itupun tidak mendetail. Sebatas memaparkan api tersebut muncul karena pergesekan antara oksigen dan unsur belerang yang ada di dalam sana. Sisanya, menceritakan legenda kisah Ki Mojo yang konon saat hendak menikahi seorang Putri namun tidak ada cahaya, kemudian ia menancapkan tongkatnya dan muncullah api abadi yang tidak pernah padam meski diguyur hujan lebat. Begituuu…

Alun alun Pamekasan

Alun alun Pamekasan

Malam di alun alun Pamekasan, ramainya hampir sama dengan malam di Sumenep, lengkap dengan kerlap kerlip odong-odongnya meski nggak seheboh odong-odong Sumenep.

Odong Odong di Pamekasan

Odong Odong di Pamekasan

Ohya, ngemil pentol di tengah rintik hujan juga enak lho.

Jajanan penthol

Jajanan penthol

Minggu, 2 Februari – Meninggalkan Pamekasan menuju Bangkalan melalui Sampang. Yah, setidaknya kami sudah melalui keempat Kabupaten yang ada di Madura. Agenda di Bangkalan memang hanya untuk belanja oleh-oleh batik khas Madura.

Batik Madura

Batik Madura

Sebelum meninggalkan Madura, kami mampir untuk menyicipi Bebek Sinjay yang terkenal itu. Ramenya sudah ndak ketulungan. Soal rasa? Ah menurut saya bebek H. Slamet di Ciganjur jauh lebih nikmat. Tapi mungkin memang bebek Sinjay ini yang paling enak se-Madura.

Sudah khatam telusur Sumenep, Pamekasan, lewat Sampang dan Bangkalan, dengan ini trip Madura pun usai.

Senang adalah bisa melewati jembatan legendaris Suramadu. Akhirnya :’)

Jembatan Suramadu

Jembatan Suramadu

Kesimpulan dari trip Madura ini, not as special as expected. Tapi #MeetTheStrangers nya yang bikin seru. Successfully #MembunuhAkhirPekan panjang dengan menempuh perjalanan 800an km dari ibukota.

Meet the strangers

Meet the strangers

Trip Madura berakhir, tapi masih ada sedikit cerita saat sejenak menunggu pesawat keesokan paginya di Surabaya.

Yang tertangkap kamera dari len jelenan ka Madhureh bisa juga dilihat disini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *