browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Jual/Beli Rindu

Posted by on August 4, 2014

Sudah 6 bulan belakangan, aku melewati kedai ini setiap harinya. Tak ada yang menarik dari bangunan sederhana yang cenderung lusuh itu. Terkecuali namanya. Kedai Rindu.

Aku bertanya dalam hati. Apakah ia terima jasa jual beli rindu? Atau menyuplai obat penawar rindu? Atau mungkin tempat berkumpulnya mereka yang akut tak berdaya akibat rindu yang diderita?

Sore itu, ditengah hujan yang sedari pagi mengguyur, kuberanikan diri memasuki Kedai Rindu. Sepi. Namun aroma yang tercium sungguh menenangkan. Syahdu seketika. Musik yang mengalun terdengar sangat kuno. Entah siapa penyanyi dan apa judul lagunya. Yang kutahu pasti, lagu itu bercerita tentang rindu.

Memasuki lebih dalam kedai, langkahku terhenti di sebuah meja. Seorang pria paruh baya menyapa. Dingin raut wajahnya. Aku berusaha membalas dengan senyuman meski aku menggigil kedinginan.

“Mau jual atau beli rindu?” ujarnya.

“ehmm… begini. Aku mau jual rinduku. Bisakah?” jawabku lanjut bertanya.

Perlahan kukeluarkan rinduku. Seketika jantung ini berdegup kencang. Tak pernah sekencang ini. Aku meyakinkan diri bahwa aku sungguh ingin menjualnya.

Pria itu mengamati rinduku dengan seksama. Dia memperhatikannya. Terlihat berpikir untuk sejenak.

“Kamu yakin mau menjualnya?”

“Iya, aku tidak menginginkannya”

“Atau mau menggadainya saja?”

“Tidak, terima kasih”

“Aku pun jual obat penawarnya. Kalau kamu tertarik”

“Tidak, terima kasih. Sudah terlalu banyak obat penawar yang kutelan”

“Hmmm sayang sekali”

“Bukan urusanmu!”

Kemudian ia mengeluarkan 2 keping logam Rp 25,- dan menyerahkannya padaku.

“Segini sajakah?” ungkapku tak percaya.

“Sudah bagus aku mau membeli rindumu. Bahkan kamu tidak menginginkannya lagi bukan?”

Aku menelan ludahku dan tertegun.

“I… iya”, jawabku terbata.

“Yasudah, cepat ambil uang ini dan segera pergi sebelum aku berubah pikiran! Jangan lihat uang recehnya. Sesungguhnya kamu dapat lebih dari itu”, bentaknya.

Tanpa pikir panjang, aku bergegas pergi. Kugenggam 2 keping logam itu. Kugenggam sangat erat di tengah hujan. Entah akan kuapakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *