browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Being Volunteer…

Posted by on December 5, 2012

Being volunteer, in my point of view…

photo (11)-tile

Seperti yang kita tahu, 5 Desember diperingati sebagai Hari Volunteer International. Tanggal itu mengingatkan betapa beruntungnya saya bisa menjadi bagian dari sebuah yayasan sosial sebagai seorang relawan.

Saya menjadi relawan di Dilts Foundation, sebuah yayasan social yang peduli isu kesehatan dan juga pendidikan anak jalanan dan anak tak mampu, sejak tahun 2006. Cukup panjang untuk bisa diceritakan selengkap-lengkapnya. Singkat kata, saya [accidentally] in love dengan Dilts Foundation, anak- anak dan semua kegiatannya sejak di bangku kuliah.

7 tahun sudah saya bergelut dengan dunia sosial. Banyak cerita lengkap dengan dramanya. Dan saat ini saya hanya ingin berbagi sedikit saja betapa sebenarnya menjadi volunteer itu bukan sesuatu yang WOW. Voluntary is just an ordinary task. Hanya saja, kerja voluntary itu harus datang dari hati. Hati sendiri, bukan hati siapapun. Karena nantinya semua itu harus kita pertanggungjawabkan sendiri pula.

Jujur saya, saya sedikit risih kalau ada yang bilang “hebat banget sih kamu, jiwa sosialmu tinggi banget”. Ah mereka pikir…

Mereka pikir, saya sudah memberi banyak untuk anak-anak Dilts.
Mereka pikir, saya sudah berkorban jiwa raga untuk anak-anak Dilts.
Mereka pikir, saya selalu mementingkan kepentingan anak-anak Dilts diatas kepentingan pribadi.

Mereka pikir….

Aaah mereka terlalu banyak berpikir. Entah kapan bertindaknya.

Mereka tidak sepenuhnya benar. Yang mereka tidak tahu adalah…

Anak-anak Dilts justru memberi saya jauh lebih banyak dari apa yang saya berikan. Tak terhitung. Dan saya nggak mampu bayar hutang ini.

Saya sama sekali tidak merasa mengorbankan apapun. I do it for pleasure. And I’ve been having so much fun!

Nggak ada yang lebih dipentingkan saat semua kepentingan disamaratakan tingkat urgensinya.

Menjadi relawan sebagai penyeimbang dari sifat-sifat buruk saya yang lain. Lagipula, setia mendampingi anak-anak ini ibarat kata mengisi waktu luang saya dengan sesuatu yang bermanfaat. Nah, apa kabar saat waktu luang kita berkurang? Tetap saja waktu luang itu harus tetap dilestarikan, jangan sampai punah alias hilang sama sekali. Mau jadi manusia macam apa kita tanpa waktu luang?

Last but not least, yang terpenting tentang menjadi seorang relawan adalah…
It teaches you how to be an unselfish person. Betapa hidup di dunia ini nggak hanya tentang kita, kita dan kita. Melainkan kita dan orang lain. Dua satuan yang harus bersama.

Satu hal lagi, saya selalu percaya bahwa semua yang saya punya hari ini, salah satunya adalah berkat doa tulus anak-anak Dilts. Jadi, tidak ada alasan lagi bagi saya untuk tidak menganggap Dilts Foundation sebagai keluarga kedua bagi saya. Oleh karena itu, ini bukan lagi persoalan kerja sosial atau volunteering, melainkan suatu keharusan tanpa satu pun alasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *