Wanita Indonesia Tanpa Judul

Apa yang membuatmu bangga terlahir sebagai wanita Indonesia? Pertanyaan yang mudah dijawab bagi mereka yang sudah menemukan jati dirinya sebagai wanita Indonesia. Bagi saya, tidak ada alasan untuk tidak berbangga hati dan berbahagia terlahir sebagai wanita di tanah air yang cantik ini, di era yang sudah merdeka.

Bangga karena sesungguhnya tidak mudah menjadi seorang wanita di negeri yang sedang berkembang namun masih kental dengan budaya ketimuran dan juga faktor agama yang tidak pernah lepas dari kehidupan sehari-hari. Bagaimana kami ingin sekali berkembang dan menyamakan level kami dengan para pria dan wanita di luaran sana, tapi masih saja terbentur adat, budaya dan larangan-larangan agama yang kami anut.

Read more »

Categories: What Goes Around | Tags: | 2 Comments

#House4Dilts: A Dream to Reach!

[Surat terbuka untuk kalian semua]

House4Dilts

Home is where our story begins… And we need a house to create more stories…

15 tahun kami berpindah dari 1 tempat ke tempat lain. Dari kolong jembatan lampu merah TB Simatupang, rumah kontrakan 3 petak sampai rumah sederhana di Komplek AL, Pasar Minggu yang terakhir kami tempati.

Berbeda dari kebanyakan rumah singgah, kami berkegiatan setiap hari Senin – Sabtu. Oleh karena itu, kebutuhan akan tempat untuk belajar yang nyaman menjadi kebutuhan primer kami.

Kami tidak perlu rumah mewah dengan segala fasilitas yang memadai. Selama ini, dimanapun kami belajar, we feel home. Karena kami percaya, home is where the heart is. Selama kami bisa belajar bersama dengan mereka yang kami sebut sebagai keluarga kedua kami, kami merasa berada di rumah.

Read more »

Categories: Dilts Foundation | Tags: , , | Leave a comment

Belajar Tersenyum dari Bocah Papua

Kamu lupa caranya tersenyum? Coba tanyakan pada Mein, bocah asli Papua yang saya temui di Mansoar – Raja Ampat beberapa minggu yang lalu.

Entah penulisan namanya benar atau salah. Berhubung anak ini belum sekolah dan belum bisa baca tulis, jadi ditanya pun dia hanya tersenyum.

Pagi itu pagi kedua saya di Raja Ampat. Berniat menyambung tugas #1Traveler1Book di tanah Papua. Para bocah ini adalah anak-anak dari para pekerja di homestay tempat kami menginap. Saya hampiri dan coba ajak bermain. Sekeras usaha saya untuk coba bisa berkomunikasi dengan mereka, tapi gagal. Mereka hanya tersenyum bahkan tertawa. Aah indahnya senyum dan tawa mereka. Meski kami tak mengerti satu sama lain, tapi saya yakin kami mengagumi satu sama lain.

Read more »

Categories: Travellie_ | Tags: , , , | Leave a comment

[Nggak] Diving di Raja Ampat

“Wah lo salah lie, lo salah banget nggak diving di Raja Ampat!”

“Lo nggak sayang ke Raja Ampat tapi nggak diving?”

“Gila lo ya! Orang-orang mah ke Raja Ampat buat diving!”

— — — — —

Dan seterusnya dan seterusnya. Itu ungkapan langsung teman-teman buat saya. Belum lagi yang ngomong di belakang. Yah kurang lebih sama lah begitu. Menyayangkan saya jauh-jauh dan mahal-mahal traveling ke Raja Ampat cuma buat snorkeling.

Mereka mungkin adalah orang-orang yang paling tahu Raja Ampat. Bahkan mungkin lebih tahu daripada saya. Karena mereka tahu persis “what to do in Raja Ampat”. Dan mereka sedang menunggu waktu yang tepat untuk bisa menginjakkan kaki dan menyelami bawah lautnya Raja Ampat.

Read more »

Categories: Travellie_ | Tags: , , , | Leave a comment

Tulus Setulus-tulusnya…

Pertama kali mendengar nama Tulus, saya pikir itu nama panggung. Eh ternyata nama asli bawaan lahir. Muhammad Tulus Rusydi, kelahiran Bukittinggi, tanah Minang 27 tahun yang lalu. Penilaian singkat dari jauh, saya pikir nggak ada nama lain yang lebih pas untuk lulusan arsitektur Unpar ini.

Semua orang yang pernah mendengarkan lagu-lagu Tulus pasti mengiyakan kelihaian Tulus dalam hal menulis lagu. Kenapa ya kok kata-katanya bisa sebegitu menyentuh? Liriknya bisa dibilang sederhana, tapi juga nggak sederhana. Penyusunan dan pemilihan kata demi katanya bisa dibilang nggak umum. Menarik!

Read more »

Categories: What Goes Around | Tags: , , | Leave a comment

Jual/Beli Rindu

Sudah 6 bulan belakangan, aku melewati kedai ini setiap harinya. Tak ada yang menarik dari bangunan sederhana yang cenderung lusuh itu. Terkecuali namanya. Kedai Rindu.

Aku bertanya dalam hati. Apakah ia terima jasa jual beli rindu? Atau menyuplai obat penawar rindu? Atau mungkin tempat berkumpulnya mereka yang akut tak berdaya akibat rindu yang diderita?

Sore itu, ditengah hujan yang sedari pagi mengguyur, kuberanikan diri memasuki Kedai Rindu. Sepi. Namun aroma yang tercium sungguh menenangkan. Syahdu seketika. Musik yang mengalun terdengar sangat kuno. Entah siapa penyanyi dan apa judul lagunya. Yang kutahu pasti, lagu itu bercerita tentang rindu.

Memasuki lebih dalam kedai, langkahku terhenti di sebuah meja. Seorang pria paruh baya menyapa. Dingin raut wajahnya. Aku berusaha membalas dengan senyuman meski aku menggigil kedinginan.

“Mau jual atau beli rindu?” ujarnya.

“ehmm… begini. Aku mau jual rinduku. Bisakah?” jawabku lanjut bertanya.

Read more »

Categories: Unspeakable | Leave a comment